Posted by: calakan | February 28, 2008

sincerity, how we can measure it?

Abis nonton Koi Ni Ochitara, dorama yang bercerita tentang industri IT mulai dari streaming online, toko online dll. Sang Antagonis utama, Takayanagi Tohru adalah seorang yang sukses bisnis dibidang IT tersebut dan mempunyai watak yang kuat dan mempunyai keyakinan bahwa dia lebih percaya dengan uang dibandingkan harus percaya dengan orang…. ada satu pertanyaan yang menohok saya dari dia ini. pertanyaannya adalah : “how we can measure sincerity ?”

so, kenapa tiba-tiba ngobrolin tentang sincerity? tadi pagi pada saat saya berangkat menuju tempat kerja ada ibu-ibu yang minta ongkos untuk melanjutkan perjalanan ke tempat yang dia  tuju… dia butuh 2000 saja untuk mencapai cicaheum, tujuannya. untuk sesaat saya tidak peduli, pikiran suudzhan saya : hari gini penipuan dengan modus seperti ini sudah sering terjadi, pura-pura nggak ada ongkos pulang untuk menipu calon korbannya dan meminta uang…

Tapi kemudian saya teringat dengan seseorang yang begitu bersahaja, yang telah mengikhlaskan hidupnya untuk membantu orang-orang melalui yayasan yang di didirikannya, sebuah yayasan untuk membantu korban bencana alam. suatu waktu dia kehabisan uang bahkan untuk membiayai kebutuhan hidupnya, apa yang dia lakukan? dia mencari-cari sang pencari dana masjid untuk menyumbangkan beberapa rupiah sisa yang dia punya. Menurut pendapatnya, selama kita mau membantu orang lain insya Allah, He, The One and Only, Allah akan membayar infak yang kita keluarkan dengan balasan berlipat ganda…

jujur saja, bagi saya yang sering kesal dengan prilaku peminta dana sumbangan mesjid tersebut, alih-alih untuk pembangunan mesjid saya malah curiga dengan hasil sumbangan itu akan di embat oleh sang peminta sumbangan itu. Tapi, bagaimana dia (orang yang saya ceritakan diatas) bisa dengan tulus memberikan sumbangan meskipun (mungkin) dia tahu belum tentu sumbangan itu sampai ke mesjid.. atau dia tidak pernah peduli apakah sumbangan itu sampai ke mesjid atau malah dimakan sendiri oleh sang penarik sumbangan? atau dia benar-benar berkhusnudzhan terhadap sang penarik sumbangan?

Setelah mengingat-ngingat cerita seseorang diatas tadi, tanpa pikir panjang ketika ibu itu minta bantuan langsung saja saya berikan beberapa rupiah yang saya punya untuknya. saya tidak peduli saya (mungkin) kena tipu, saya tidak peduli, yang saya tahu dihadapan saya seorang ibu sedang meminta bantuan dan saya bisa membantunya. Titik.


Responses

  1. pas tingkat 2 aku juga pernah ketemu yg kyk gitu, bapak2 ngakunya dari bogor trus kecopetan ga bs pulang, minta dipinjemin duit 20k, minta alamat buat ngembalikan janjinya. sampe pindah kos ga ada kabarnya blas

    lupa kali ya *sok khusnudhon*

  2. he he he… tapi gak jadi kapok untuk berbuat baik lagi kan abis itu?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: