Posted by: calakan | February 18, 2010

kontra(di)ksi

Membaca ulasan seorang teman dalam blognya, membuat saya panas dan tertantang untuk membuat ulasan tandingan, tapi berhubung ilmu yang saya sandang tidak cukup mumpuni untuk melakukan itu jadi untuk saat ini sebaiknya saya “empowering” dahulu, menambah knowledge yang saya butuhkan terlebih dahulu sebelum membuat ulasan tandingan. Tentang apakah ulasan teman saya yang merisaukan saya itu?

Adalah tentang pertentangan klasik antara teolog dan filsuf, secara lebih spesifik adalah pertentangan antara Imam Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd (averous), yang secara serampangan disimpulkan sebagai : barat maju karena mengikuti apa kata ibnu Rusyd(mengembangkan filsafat) dan Islam mundur karena ngikut Imam Al-Ghazali(lebih mementingkan rasa).

Saya tidak tahu, apakah teman saya itu sudah membaca kitab yang dibuat Imam Al-Ghazali secara langsung atau sekedar “katanya” (well, saya coba cari di google yang terjemahan indonesia belum ada yang menerbitkan, atau sudah ada? please let me know…) atau beliau sudah jago bahasa arab sehingga baca yang bahasa arabnya (ya saya menemukan yang versi arabnya di inet…). Jika dia hanya tahu kitab tersebut hanya dari “katanya” dan tidak membaca sama sekali kitab aslinya, maka sangat disayangkan sekali secara dia memberikan kesimpulan yang begitu berani tanpa dasar yang jelas.

Dan kalau sekedar katanya, sayapun bisa menyanggah “menurut katanya” dalam kitab tersebut Imam Al-Ghazali tidak mengutip satu ayat Al-Qur’an pun, dalam kitab tersebut Imam Al-Ghazali menuangkan pikiran-pikirannya. Lalu jika demikian, mengapa mereka bisa disesatkan dengan mengatakan Imam Al-Ghazali menentang penggunaan akal/mengharamkan filsafat? sedangkan kitab yang dibuat untuk menunjukan kekeliruan para filsafat itu lahir berdasarkan pemikirannya dan bukan hanya berdasarkan dogma saja? (kalau mereka mau menyamakan wahyu dengan dogma… astagfirullah).

well, saya sendiri menemukan kontradiksi dalam tulisan teman saya ini. dalam tulisannya teman saya ini begitu menghindari dogma, yang menurut pemahamannya adalah sebuah oversimplifikasi (meskipun dia tidak menolak dogma sama sekali) tapi kesimpulan yang dihasilkannya dari ulasannya sendiripun saya melihatnya sebagai sebuah dogma : sebuah oversimplifikasi…


Responses

  1. Hehe.. tulisan ini mengacu pada posting blog saya loh.. *narsis*

    Mantaf bud. Gw blm baca Ihya Ulumuddin, tahafut al-falsifah, dan teman2nya Bud. Tapi kalau mau baca book reviewnya lumayan banyak di Internet. Ini salah satunya yang lumayan :

    http://media.isnet.org/islam/Paramadina/Konteks/FilsafatIslam3.html

  2. Nah inilah Cok, salah satu hal yang harus kita waspadai dalam mencari/menjadikan sumber pengetahuan bagi kita. Saya tidak mau bersu’udzhan terhadap penulis tersebut, tapi kita patut waspada/hati-hati dalam menerima informasi yang mendiskreditkan ulama islam dan mengagung-agungkan pendapat barat. Maka dari itu apabila ada pendapat nyeleneh, sebaiknya adalah kembali pada sumber aslinya.

    • Pada bagian mana Bud tepatnya ada tindakan mendiskreditkan (Al-Ghazali kalau tidak salah)? Menurut saya, tidak ada indikasi mendiskreditkan dalam hal ini. Ini hanya sebuah ulasan sejarah yang diterima secara umum. Lagipula, ini hanya sebuah literatur dari banyak literatur lain yang isinya juga sama. Coba deh cari kata kunci “ibnu rusyd vs al-ghazali” di google atau silakan lihat di wikipedia.

      Ibnu Rusyd juga ulama Islam yang yang tidak kalah penting lho. Dia qadi yang sangat terkenal pada jamannya dan tempatnya di Spanyol sana. Mungkin pemikirannya agak asing buat kita yang menganut mazhab syafi’i, seperti juga pemikiran Ibnu Sina, Al-Kindi, dan banyak ulama lain yang tidak sepaham dengan Al-Ghazali (yang merupakan ulama Syafi’iyah). Apa kalau tidak sependapat dengan Al-Ghazali berarti salah gitu?🙂

      Saya tidak sepakat dengan pemisahan antara Timur-Barat. Semuanya saling bertukar pikiran. Pandangan Aristoteles dan Plato diadaptasi oleh Ibnu Sina dan Al-Kindi, dan Ibnu Rusyd (dan ulasannya diakui di ilmuwan Barat sana hingga kini). Beberapa pemikiran Al-Ghazali sendiri juga diadaptasi oleh Rena Descartes dan St. Thomas Aquinas (yang merupakan ilmuwan kristen yang legendaris). Silakan lihat lagi di google atau wikipedia..🙂

  3. Banyak Cok, apabila kita membaca buku-buku kaum liberalis seperti Prof. Dr. Amin Abdullah, Fazlur Rahman, Mohammed Arkoen, al-Jabiri, Hassan Hanafi, Nasr Hamid Abu Zeid, Farid Essac mereka dengan keji menfitnah para ulama salaf tanpa hujjah yang jelas.

    Saya tidak bermaksud untuk memisahkan barat dan timur, adalah suatu yang normal jika barat dan timur saling mewarnai tentu saja dalam hal-hal yang bukan merupakan hal yang pokok. Tapi untuk hal-hal yang sudah fix misalnya dalam tafsir Al-Qur’an penggunaan hermeutika yang didengung2kan oleh sebagian kalangan liberal adalah sesuatu yang tidak masuk akal dan mengada-ngada.

  4. Memangnya fitnah macam apa yang diceritakan sama mereka-mereka ini Bud? Ini orang-orang terkenal sebagai ilmuwan muslim kontemporer. Sudah pernah baca buku-bukunya?

    Misalnya saja, Hasan Hanafi. Dia adalah salah satu tokoh kelompok Ikhwanul Muslimin di Mesir yang menginspirasi pergerakan Islam modern. PKS itu salah satu organisasi yang terinspirasi dari gerakan ini..

    Tadi di Gramedia hampir saya beli bukunya Hassan Hanafi yang berjudul “From Dogma to Revolution”. Sayang saja istri berkata nanti dulu. Sudah ada terjemahan Indonesianya lho..

    Bicara soal penafsiran Al-Quran, pembahasannya bisa panjang. Mestinya Budhi sudah familiar dengan tafsir klasik Ibnu Katsir.

    Tapi nanti kalau ke di Gramedia, coba lihat ada Tafsir Al-Misbah Quraish Shihab dan Tafsir Yusuf Ali terjemahan Ali Audah. Lihat cari kata kunci ‘Sidratul Mutaha’ di surat 53:14 yang sering dikutip dalam kisah Isra Miraj. Silakan lihat bagaimana perbedaan penafsiran frase ini di antara kedua tafsir tersebut. Nanti kita bahas..🙂

    Untuk tafsir Yusuf Ali terjemahan bisa dilihat di jilid II halaman 1383. Untuk yang tafsir Quraish Shihab, saya tidak tahu halamannya. Coba lihat bagaimana perbedaan tafsir yang ternyata tidak terlalu ‘fix-fix’ amat. Masih ada ruang untuk keragaman tafsir ini. Ini tidak mengada-ngada dan silakan dilihat sendiri..😉

    Mengenai hal-hal yang ‘fix’ tentunya ada sejarahnya. Kita bisa pelajari dari berbagai religion studies sejak kapan dia jadi ‘fix’, siapa yang mem’fix’ kan, dan apa motif fiksasi ini?

    Misalnya, mengenai perkembangan metode tafsir, bisa lihat di link googlebooks bawah ini:

    http://books.google.co.id/books?id=0BTdX6Uz3gQC&pg=PA6&lpg=PA6&dq=perbedaan+tafsir+al+quran&source=bl&ots=haIqC5MN6T&sig=GY1BcGloL2VZr3g517lC0f1znjo&hl=en&ei=ZdaTS-f1FoW2rAekzZS6Cw&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=5&ved=0CBkQ6AEwBDgK#v=onepage&q=&f=false

  5. Sebenernya belum baca, menurut Dr. Adian Husaini dalam tulisannya saya kutif ya…

    Prof Amin Abdullah, misal­nya, menulis dalam satu buku hermeneutika: “Metode penaf­siran Al-Quran selama ini senantiasa hanya memper­hatikan hubungan penafsir dan teks Al-Quran tanpa pernah meng­eksplisit­kan kepenti­ngan audiens terhadap teks. Hal ini mungkin dapat dimaklumi, sebab para mufasir klasik lebih menganggap tafsir Al-Quran sebagai hasil kerja-kerja kesalehan, yang dengan demikian harus bersih dari kepentingan mufasirnya.

    Atau barangkali juga karena trauma mereka pada penafsiran-penafsiran teologis yang pernah melahirkan pertaru­ngan politik yang maha dahsyat pada masa-masa awal Islam. Terlepas dari alasan-alasan tersebut, tafsir-tafsir klasik Al-Quran tidak lagi memberi makna dan fungsi yang jelas dalam kehidupan umat Islam.”

    Dalam buku yang sama juga disebutkan bahwa, Hassan Hanafi menawarkan cara baru dalam membaca al-Quran. Metode Hassan Hanafi, seperti juga Arkoen, dikatakan telah menghindarkan diri dari penafsiran yang subjektif dan menjadikan teks sebagai sekedar justifikasi dan dalih bagi kepentingan penafsir. Kini sudah saatnya ada panduan metodologis yang dapat menjadi “pencerahan” bagi mufasir-mufasir muda Muslim dalam menjembatani antara al-Quran dan kemanusiaan.

    Ditulis juga dalam buku ini: “Apalagi sebagian besar tafsir dan ilmu penafsiran yang diwarisi umat Islam selama ini, sadar atau tidak, telah turut melanggengkan status quo dan kemerosotan umat Islam secara moral, politik, dan budaya. ” (Lihat, Ilham B. Saenong, Hermeneutika Pembe­basan, 2002, hal. xxv-xxvi, 10).

    Jika benar apa yang dikutipkan dari tulisan Dr. Adian Husaini ini, maka sungguh keji fitnah yang disampaikan oleh orang2 yang kamu anggap ulama kontemporer tersebut. Dan pertanyaan sederhana, apakah mereka shalat 5 waktu berjamaah dimesjid?

  6. Sekali lagi ada berbagai macam tafsir tergantung dari mufassirnya. Ada tafsir yang klasik, ada tafsir modern. Ada tafsir yang fundamentalis, ada tafsir yang liberal. Tergantung dari tingkat pengetahuan dan latar belakang penafsirnya..

    Kalau mampu dan mau, kenapa kita tidak baca saja semua tafsir ini? Supaya (moga-moga) punya pandangan yang komprehensif dalam memahami Al-Quran.

    Hermeneutika adalah bahasa (sok) asing. Artinya kurang lebih adalah penafsiran juga. Kedengarannya saja diasing-asingkan biar (sok) keren..🙂

  7. Misalnya mengenai perbedaan tafsir nih, ada banyak pendapat mengenai berapa kali shalat dalam sehari.

    Pada umumnya, umat Muslim melakukan shalat lima waktu. Sumber hukumnya adalah dari perintah yang didapat Muhammad ketika perjalanan Isra Miraj.

    Di Al-Quran, ada ayat yang sering dikaitkan dengan Isra Miraj, misalnya QS 17:1 dan 52:16. Meskipun begitu, cerita yang detail mengenai Isra Miraj yang menurunkan perintah shalat lima waktu ini tidak ada di Al-Quran. Yang menceritakan detail ini adalah seorang biografer Muhammad pada awal yaitu bernama Ibnu Hisyam.

    Oleh karena itu, ada juga ulama yang tidak sepakat dengan cerita Isra Miraj bahkan shalat lima waktu. Gimana tuh?

    Kalau kita lihat, ayat yang berkaitan dengan Isra Miraj memiliki hubungan yang tidak konsisten dengan ayat-ayat selanjutnya kalau kita tafsirkan dengan Isra Miraj. Makanya, ada juga yang menafsirkan ayat-ayat ini tidak ada hubungannya dengan Isra Miraj. Bahkan, karena lemahnya tafsir Isra Miraj ini, ada juga yang menafsirkan Isra Miraj itu tidak pernah terjadi..

    Selanjutnya, coba lihat di Al-Quran, ada berapa waktu shalat dalam sehari? Di QS 11:114 tertulis secara literal tiga kali, yaitu pada kedua tepi siang dan pada permulaan malam. Bagi orang yang menafsirkan ayat ini secara literal, mereka melakukan shalat tiga waktu sehari. Bagi yang tidak, seperti kita pada umumnya melakukan lima kali, ya monggo saja..

    Sekali lagi Bud, kita bisa saja berbeda-beda dalam tingkat penafsiran. Dan ini sah-sah saja..

    • Baiklah, Siapa ulama yang tidak sepakat tersebut dan apa landasannya beliau tidak percaya dengan Isra Mi’raj ? segala sesuatu harus ada landasannya bukan? saya termasuk yang percaya isra dan mi’raj ini, dengan bersandarkan pada dalil hadits yang terpercaya yakni hadits yang shahih…

      sebuah penilaian hadits menjadi shahih, dhaif, mutafaq alaih dan lain sebagainya berdasarkan kaidah yang ketat. dan inilah yang menjadikan agama Islam sebagai satu-satunya agama yang terpelihara dari tangan-tangan iseng. untuk lengkapnya cokhy bisa belajar mengenai ilmu hadits…

      mengenai tafsir saya tidak sepakat setiap orang bisa menafsirkan menurut selera hawa nafsunya. untuk itu maka ada kaidah-kaidah yang harus dipenuhi oleh seseorang untuk bisa menjadi penafsir. dan hasil tafsirannya pun tidak serta merta diterima, harus di uji lagi dengan sumber aslinya yakni Qur’an dan Sunnah Nabi.

      Mengenai shalat 5 waktu, bahwa di Qur’an hanya diberitakan pada 3 waktu saja.. tentu saja kita tidak bisa saklek shalat 3 waktu saja, kita juga harus mengacu pada contoh Rasulullah Muhammad SAW, mengapa harus? karena Allah sendiri dalam firmanNya menegaskan untuk mencontoh Rasulullah Muhammad SAW. Jika cokhy belajar mengenai hukum ibadah, cokhy akan semakin mengerti mengapa kita harus mencontoh junjungan kita Nabi Muhammad SAW…

      Demikian lah syariah islam berlandaskan dua undang-undang dasar utama yakni Al-Qur’an dan Hadits, Al-Qur’an merujuk pada hal-hal umum hadits merujuk pada tataran praktisnya…

  8. Saya tidak menyalahkan bagi yang mempercayai kisah Isra Miraj terjadi sebagaimana hadits yang terpercaya seperti menurut Budhi. Saya mempelajari Isra Miraj juga dengan pendekatan sejarah juga.

    Banyak Bud yang tidak sepakat alur ceritanya detailnya. Ada yang bilang Isra Miraj perjalanan fisik, ada juga yang bilang perjalanan rohani. Sangat beragam dan masing-masing memiliki hujjah (argumen) masing-masing. Coba search wikipedia tentang Isra Miraj.Pendapatku mengenai Isra Miraj silakan baca di :
    http://cokhy.blogspot.com/2009/11/festival-kebudayaan-islam-sejarah-dan.html

  9. Mari kita bicara soal hadits. Saya setuju dengan pendapat Budhi bahwa kita harus mempelajari hadits lebih dalam. Urusan hadits ini memang memiliki variasi yang luas dan hingga sekarang masih banyak diskusi.

    Nabi Muhammad sendiri pada masa hidupnya melarang kata-kata beliau (selain Al-Quran yang diajarkan oleh Jibril) ditulis karena khawatir tercampur satu sama lain. Ini ada haditsnya lho, riwayat Muslim kalau tidak salah.

    Hal ini membuat hadits baru mulai ditulis satu abad setelah wafatnya nabi Muhammad. Sebelum masa penulisan hadits ini, umat Muhammad menghafalkan dan menceritakannya secara turun temurun.

    Pada abad ke-9 M, jumlah hadits berkembang pesat, bahkan mencapai jutaan. Oleh karena itu, pada masa kekhalifahan Abassiyah, metode penyaringan hadits mulai berkembang. Mengkritisi dan menyaring hadist adalah hal yang berkembang dalam dunia kajian Islam saat itu. BTW, koleksi hadits sunni berbeda dengan syiah.

    Hasilnya, ada pemilahan hadits shahih-dhaif-palsu dengan tingkat keragaman yang tinggi. Hadits yang shahih menurut yang satu tidak berarti shahih untuk yang lain. Dari puluhan periwayat hadits, akhirnya sejarah memilih beberapa saja. Beberapa periwayat hadits diantaranya Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi yang dipercaya (dan juga hanya ini yang saya percaya) memiliki metode seleksi yang baik.

    Tentunya Budhi sudah dengar tentang seleksi hadits dengan metode matan dan sanad. Matan membicarakan isi ‘redaksional’ dari hadits. Sedangkan sanad membicarakan jalur periwayatan secara turun temurun dari Nabi hingga periwayat hadits. Kalau yang sesuai dengan ini, dikatakan ‘shahih’ alias kuat. Tidak ada istilah hadits yang benar salah, yang ada adalah shahih (kuat) dan dhaif (lemah). Dan belakangan ada juga yang palsu..

    Islam sunni baru memfinalisasi hadits sekitar 230 tahun setelah wafatnya nabi. Pada sepanjang waktu ini, jutaan hadits ini baru mulai dikritisi, diseleksi, dan akhirnya difinalisasi. Misalnya saja, Imam Bukhari menemukan 300 ribu hadits dan memilih 2600an saja yang beliau anggap shahih. Imam Muslim, dari 300 ribu yang ditemui menjadi 4000an saja yang shahih. Jadi bisa dibayangkan, pada masa sejauh ini, bagaimana distorsi bisa terjadi dan menimbulkan variasi yang luas.

    Belakangan, imam Syafi’i menduetkan antara Al-Quran dan Hadits sebagai sumber hukum utama dalam mazhab-nya. Lebih jauh lagi, ulama belakangan berpendapat hadits bisa menasakh-kan (membatalkan) Quran.

    Banyak hadits shahih yang tidak sejalan dengan semangat dasar Islam, bahkan di shahih Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi. Dan saya sendiri menyikapi hadits tidak sebagai sumber hukum yang ‘saklek’., tetapi sebagai bahan pertimbangan untuk mempraktekkan Islam dalam kehidupan sehari-hari.

    Toh, tidak ada kewajiban mengimani hadits..

  10. Mari kita bicara lagi soal tafsir. Menurut Budhi, tafsir mana yang paling benar dan sesuai dengan kaidah yang ketat? Tafsir Depag, Tafsir Al Azhar karangan Buya Hamka, atau tafsir Ibnu Katsir?

    Di samping itu, saya tidak bisa menilai yang mana yang menggunakan hawa nafsu yang mana yang tidak. Apa ada yang bisa menilai hal ini?

    Misalnya saja, Budhi mengikuti pendapat ulama yang tidak menafsirkan Al-Quran secara saklek dalam menafsirkan ayat yang berkaitan dengan waktu shalat ini. Sementara yang lain, menafsirkan ini secara saklek dan melakukan shalat 3 kali sehari. Jadi penafsiran bisa berbeda-beda kan?

    Saya sepakat kita harus meneladani nabi Muhammad, disamping juga mengimani kerasulan Muhammad..

  11. Terimakasih atas paparan mengenai haditsnya Cok. Benar, bahwa kita tidak mendapati keterangan mengenai keharusan untuk “mengimani hadits/sunnah”. Dalam rukun iman, salah satunya adalah iman pada Rasul, dan Iman kepada Kitab Allah.Impelementasi iman pada Rasul adalah dengan meneladani Rasulullah Muhammad SAW seperti yang kita sepakati, bukan?

    darimana kita tahu apa yang kita teladani dari Beliau, Rasulullah Muhammad SAW ? tentu saja dari hadits, bukan? dengan demikian hadits juga menjadi wajib kita imani. Tentu saja bukan sembarang hadits tapi yang jelas-jelas shahih…

    Dan mengenai hadits menjadi rujukan dalam hukum islam, bukan Imam Syafii yang meletakan pondasi itu, tapi Rasulullah Muhammad SAW sendiri. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah SAW bersabda :
    “Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, yang kalian takkan pernah sesat selama kalian berpegang kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku.”

    Manakah dari ke empat tafsir, yang Cokhy sebutkan yang mengikuti hawa nafsu? Depag setahu saya itu hanya terjemah, bukan tafsir.. lalu mengenai Tafsir Ibnu Katsir & Tafsir Buya HAMKA keduanya adalah tafsir yang mengikuti kaidah penafsiran. Yang saya maksud dengan yang mengikuti hawa nafsunya adalah penafsiran (bukan tafsir, setahu saya belum ada yang buat tafsir) beberapa ulama yang dianggap “ulama kontemporer” saat ini yang berhujah tanpa landasan yang kuat. Semisal pendapatnya Nasr Hamid Abu Zeid yang mengatakan Al-Qur’an sebagai produk budaya. Sehingga, misalnya, syariah untuk menutup aurat jilbab dianggap sebagai kewajiban hanya untuk orang arab karena disana adalah padang pasir.

    Ini yang saya maksud yang men-tafsir-kan Qur’an mengikut hawa nafsunya, dia tidak mendasarkan penafsirannya terhadap hadits/sunnah Nabi Muhammad SAW terlebih dahulu.

    Okay, agar gak berlarut-larut diskusinya maka mari kita renungkan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an :
    “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah rasul, dan ulil amri di antara kamu. Jika kamu berselisih tentang suatu perkara, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir; yang demikian itu lebih utama dan lebih baik kesudahannya?”. [Q.S. 4:59]

  12. Saya setuju bahwa kita harus mengikuti ayat Al Quran tentang menaati Rasullullah. Tetapi menurut pendapat saya, menyamakan antara melaksanakan hadits secara satu per satu sebagai menaati Rasul adalah sebuah simplifikasi alias dogma.

    Iman adalah bentuk kepercayaan yang tidak bisa dicari buktinya. Kerasulan misalnya adalah sesuatu yang tidak bisa dibuktikan. Kita tidak bisa membuktikan kerasulan Muhammad, kita hanya bisa mengimani kerasulan Muhammad saja.

    Di sisi lain, perkataan dan perbuatan Muhammad sebagai manusia bisa kita observasi, kita lakukan pendekatan sejarah, dan kita cari buktinya, sehingga hal-hal ini tidak perlu diimani.

    Selanjutnya, koleksi hadits adalah sebuah pendekatan sejarah terhadap perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad. Hanya sebuah pendekatan dan bukan sesuatu yang pasti. Tidak ada kepastian benar-salah dalam hadits, yang ada adalah kuat-lemah (shahih-dhaif). Yang shahih menurut Bukhari belum tentu shahih menurut perawi lainnya. Jadi mau ikut shahih yang mana?🙂

    Jadi, bagi saya hadits tidak perlu saya imani dan saya ikuti secara bulat-bulat. Hadits adalah sebuah pertimbangan yang penting dalam menjalankan kehidupan. Rasionalitas dan logika akan membantu menentukan tingkat kesahihan suatu hadits.

    Kalaupun ada yang mengimani Hadits dan menjalankannya secara bulat-bulat, silakan saja. Sekali lagi, tidak ada keimanan yang benar ataupun salah karena tidak bisa membuktikan keimanan.

    Kalau membaca Shahih Bukhari dan Muslim saya melihat kalau kita mengikuti seluruh shahih Bukhari dan Muslim secara utuh untuk dilaksanaan pada masa sekarang seperti kembali ke jaman pertengahan. Ada beberapa ayat-ayat hadits yang menurut saya sudah tidak sesuai lagi dengan zaman modern ini, bahkan tidak sesuai dengan semangat universal Islam sendiri. Hadits-hadits Nabi yang baru dikumpulkan dua ratus tahun setelah mangkatnya Nabi sehingga cukup repot jika kita tidak mempertimbangkannya secara rasional dan logis.

  13. Sebuah contoh yang berkaitan dengan Biologi kita deh, pada Shahih Muslim no. 2240, ada sunah membunuh cicak : “Sesungguhnya Nabi SAW telah memerintahkan supaya membunuh cicak dan beliau menamakannya si penjahat kecil (Fuwaisik).”

    Bayangkan kalau semua umat Muslim menjalankan sunah ini, apa keseimbangan ekosistem tidak terganggu? Bayangkan berapa banyak nyamuk yang bakal menggigiti kita karena cicak terancam punah?🙂

    Atau ada juga hadits shahih yang diriwayatkan Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Qathan, dan al-Albani terkait dengan ‘aktivitas seksual Nabi’ seperti begini :

    Jabir ibn Abdullah menyampaikan bahwa Nabi Muhammad melihat seorang perempuan kemudian ia masuk rumah untuk menemui Zainab binti Jahsyn untuk menunaikan “hajat”-nya. Setelah usai, ia keluar menemui para sahabat sembari berkata, “Sungguh perempuan datang menyerupai setan. Barangsiapa merasakan sesuatu (hasrat seksual) karenanya, bersegeralah ke istrinya. Perilaku itu akan menghilangkan hasrat yang ada di dalam jiwa.”

    Waduh, perilaku seperti ini mungkin sudah tidak dianggap baik lagi pada zaman ini, apalagi trend kesetaraan gender semakin berkembang. Ini hadits shahih lho..

    Tetapi juga sekali lagi, banyak juga sunah yang baik untuk kita ikuti. Misalnya hadits mengenai adab bertetangga yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim : “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya.”

    Jadi kesimpulannya, menurut saya hadits tidak perlu diimani dan ditaklidkan secara buta. Menurut saya, kita sebaiknya mempelajari secara sungguh-sungguh dan gunakan rasio logika mana yang tepat untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. .🙂

  14. salam kenal.🙂

    sekedar berbagi ulasan tentang algazali, mas: http://curusetra.wordpress.com/2009/06/26/sejenak-dengan-al-ghazali-2/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: