Posted by: calakan | February 22, 2010

monopoli kebenaran

Salah satu hal yang selalu menjadi serangan para libertarian terhadap para pemuka agama adalah mengenai adanya monopoli kebenaran oleh para ulama, dan tidak memperbolehkan selain para ulama untuk mengulas/menyampaikan versi kebenaran menurut selera mereka? apakah benar demikian?

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai hal ini,  renungkan beberapa pertanyaan berikut : pada saat kita sedang sakit dan membutuhkan pengobatan apakah kita akan pergi ke dokter atau ke seorang arsitektur? pada saat kita membutuhkan informasi mengenai seluk beluk mesin mobil apakah kita akan bertanya pada seorang montir atau ke tukang jahit? Saya percaya jika anda orang yang normal, tentu pertanyaan-pertanyaan diatas akan mudah dijawab. mengapa anda memilih jawaban-jawaban anda diatas? based on what? salah satunya pasti berdasarkan kompetensi yang dimiliki oleh para profesi tersebut.

pertanyaan pertama, tentu saja pada saat anda sakit dan membutuhkan pengobatan anda akan pergi ke dokter, karena anda yakin kompetensi sang dokter lebih tepat dibandingkan jika anda pergi ke seorang arsitek. pun begitu ketika anda membutuhkan informasi mengenai mesin mobil yang anda akan lakukan bertanya pada seorang montir, bukan pada seorang tukang jahit.

terlepas dari faktor-faktor ‘x’ dimana bisa saja seorang arsitektur memiliki ilmu pengobatan, dan seorang tukang jahit punya informasi mengenai mesin mobil tapi itu tidak akan menjadikan profesi arsitektur kemudian jadi tempat berobat dan seorang tukang jahit tempat bertanya mengenai informasi mesin mobil(dalam kedua kasus diatas).

Pun begitu mengenai tudingan para libertarian yang menuding para ulama memonopoli kebenaran, seharusnya mereka paham segala sesuatu ada niche-nya masing-masing. Apakah boleh diluar para ulama itu berpendapat dalam bidang agama? tentu saja boleh-boleh saja selama orang tersebut paham/menguasai seluk-beluk yang menjadi domain ulama tersebut. Misalnya, jika seseorang ingin bisa menafsirkan suatu ayat Al-Qur’an orang tersebut harus menguasai dulu bahasa arab yang fasih, ilmu hadits, asbabun nuzul, menguasai kitab-kitab klasik para ulama salaf dll yang akan menjadi dasar atas penafsiran yang dihasilkan kemudian. Jika tanpa ilmu-ilmu tersebut kemudian dia berani menafsirkan Al-Qur’an, pertanyaaanya atas dasar apa penafsirannya? atas hawa nafsunya sendiri? atau  yang lebih menyedihkan jika penafsirannya hanya berdasarkan penafsiran para orientalis yang punya niat buruk terhadap terhadap agama ini.

Maka sungguh benar apa yang Allah sampaikan dalam firman-Nya, Bagaimana mereka bisa disesatkan setelah kebenaran itu datang pada mereka sedangkan sejak awal logika berpikirnya saja sudah salah. Semoga Allah selalu memberikan hidayah pada kita dan kita tidak tercemari oleh kalimat-kalimat manis yang menyesatkan.

yang benar datangnya dari Allah SWT, yang salah datangnya dari kekhilafan saya sendiri. Wallahua’lam bishowab…


Responses

  1. Gimana kalau antar ulama pendapatnya tentang sesuatu berbeda satu sama lain Bud? Yang mana yang sebaiknya kita ikuti?

    Sebuah contoh klasik di Indonesia nih :
    Dalam menentukan jatuhnya hari Idul Fitri, yang mana yang harus kita ikuti? Kalau kita ikut NU hari lebarannya kira-kira setelah 30 hari berpuasa, sedangkan kalau kita ikut Muhammadiyah lebarannya kira-kira setelah 29 hari berpuasa.

    PS : gw sih ikut-ikutan NU, karena keluarga gw (mengaku) NU..🙂

  2. Silahkan ambil yang paling mendekati kebenaran menurut keyakinan kita. Selama itu bukan masalah pokok dalam beragama dan merupakan wilayah ijtihad ulama maka mengikuti pendapat salah satu ulama tidak apa-apa selama keduanya berdasarkan hujjah yang sama-sama kuat. Karena dalam ijtihad, apabila keputusannya benar mendapatkan 2 pahala dan jika salahpun mendapatkan 1 pahala. Kedua-duanya mendapatkan pahala. Tapi harus dipahami bahwa untuk melakukan ijtihad tentu tidak bisa sembarang orang tapi orang yang memang memiliki keluasan ilmu dalam masalah tersebut.

    Tapi apabila merupakan masalah yang pokok dalam agama, maka tidak ada ijtihad lagi. Misalnya dalam kasus ahmadiyah, masalah kenabian dalam agama islam adalah masalah pokok yang sudah final. Tidak ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad SAW, maka dari itu jika ada yang mengaku-ngaku nabi maka itu adalah nabi palsu dan ajarannya adalah ajaran yang sesat. Demikian pulak dengan kasus ajaran edannya lia eden.. meskipun keluar dari pendapat dari sekaliber orang bergelar prof dr jika mengakui adanya/melegitimasi ajaran yang keluar dari pokok ajaran agama Islam maka pendapatnya wajib ditolak. Wallahua’lam…

  3. Jadi bagaimana menentukan perihal mana yang pokok dan perihal mana yang tidak pokok dalam agama Bud? Saya rasa penentuan ini saja sudah membutuhkan ‘ijtihad’ sendiri. (dan tentunya hasil ijtihadnya berbeda antara satu ulama dengan ulama lainnya..)

    Bicara soal Ahmadiyah saja, ijtihadnya berbeda lho.. Ada lebih dari 10 juta penganut Ahmadiyah di seluruh dunia, terutama di India dan Pakistan. India menganggap Ahmadiyah ini termasuk bagian dari keanekaragaman dalam Islam. Sedangkan Pakistan menganggap Ahmadiyah bukan bagian Islam. Apa komunitas muslim secara keseluruhan di India sesat? 🙂

    Saya sendiri berpendapat Muhammad sebagai nabi terakhir, karena masyarakat sekarang sudah tidak butuh nabi baru lagi..🙂

  4. Penentuan yang menjadi pokok adalah dari hadits Nabi Muhammad SAW mengenai rukun islam, rukun iman dan ihsan. Tidak ada ijtihad mengenai hal ini. Seperti yang saya bilang sebelumnya dalam perkara pokok TIDAK ADA IJTIHAD, jadi kalimat Cokhy “bahwa ahmadiyah ijtihadnya berbeda lho” dengan sendirinya gugur :

    Dari Umar ibnul Khaththab “Radhiallahu “Anhu berkata: “Ketika kami sedang berada di samping Rasulullah “Shallallahu “Alaihi Wa “Ala Alihi Wa Sallam pada suatu hari, tiba-tiba muncullah pada kita orang yang pakaiannya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak terlihat padanya bekas-bekas perjalanan, dan tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya. Orang tersebut duduk di dekat Rasulullah “Shallallahu “Alaihi Wa “Ala Alihi Wa Sallam dengan menyandarkan kedua lututnya ke lutut beliau dan meletakkan kedua tangannya ke kedua paha beliau.

    Orang tersebut berkata: “Hai Muhammad, beritahukanlah kepadaku tentang Islam !”
    Rasulullah “Shallallahu “Alaihi Wa “Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Islam ialah hendaknya engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan berhaji ke Baitullah jika engkau mendapatkan jalan kepadanya.”

    Orang tersebut berkata: “Engkau berkata benar.”

    Kami heran padanya, ia bertanya kepada Rasulullah “Shallallahu “Alaihi Wa “Ala Alihi Wa Sallam namun ia juga membenarkan beliau.

    Orang tersebut berkata lagi: “Beritahukan kepadaku tentang iman!”

    Rasulullah “Shallallahu “Alaihi Wa “Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Hendaknya engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, Hari Akhir dan beriman kepada takdir; baik buruknya.”

    Orang tersebut berkata: “Engkau berkata benar.” Lalu orang tersebut berkata lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan!.”

    Rasulullah “Shallallahu “Alaihi Wa “Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Hendaknya engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatNya. Jika engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

    Orang tersebut berkata: “Beritahukan kepadaku tentang hari kiamat!”

    Rasulullah “Shallallahu “Alaihi Wa “Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Orang yang ditanya tentang hari kiamat tidak lebih tahu dari orang yang bertanya.”

    Orang tersebut berkata: “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tanda hari kiamat!”.

    Rasulullah”Shallallahu “Alaihi Wa “Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Budak wanita melahirkan majikannya, engkau lihat orang yang telanjang kaki, telanjang badan, fakir lagi menggembala kambing saling meninggikan bangunan.”

    Setelah itu orang tersebut pergi dan aku tetap berada di tempat lama sekali hingga akhirnya Rasulullah “Shallallahu “Alaihi Wa “Ala Alihi Wa Sallam bersabda kepadaku: “Hai Umar, tahukah engkau siapa penanya tadi””

    Aku menjawab: “Allah dan RasulNya yang lebih tahu.”

    Rasulullah “Shallallahu “Alaihi Wa “Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya dia adalah Jibril yang datang kepadamu untuk mengajarkan agama kepadamu.”
    (HR. Muslim).

    Jadi jika ahmadiyah meyakini ada nabi setelah Rasulullah Muhammad SAW, maka sesat tidak peduli sebanyak 10 juta orang sekalipun.

  5. Terima kasih atas paparan Hadits Riwayat Muslimnya Bud😉

    Sebelum bicara soal kenabian terakhir, ada baiknya kita tahu dulu bahwa Mirza Ghulam Ahmadnya sendiri tidak pernah mengatakan dirinya adalah seorang nabi. (dapat dilihat di semua tulisan karyanya)

    Yang menganggap Bang Mirza ini seorang nabi adalah sebagian pengikutnya belakangan. Dan tidak semua penganut Ahmadiyah menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai seorang nabi.

    Ahmadiyah Qadian adalah bagian yang mempercayai bahwa Mirza Ghulam Ahmad sebagai seorang mujaddid (pembaharu) dan nabi yang tidak membawa syariat baru. Di Indonesia, grup ini pusatnya ada di Bogor.

    Sedangkan Ahmadiyah Lahore adalah bagian yang tidak menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, melainkan hanya sekedar mujaddid dari ajaran Islam. Di Indonesia, grup ini pusatnya ada di Yogya.

    Jadi mengenai urusan nabi terakhir ini, sepertinya grup yang dituju bukan semua Ahmadiyah, melainkan hanya yang pusatnya di Bogor ini.

  6. Selanjutnya, menurut saya Ahmadiyah adalah salah satu keragaman Islam (meskipun memiliki pemahaman yang berbeda dengan saya).

    Mereka bersaksi Allah sebagai Tuhan, dan Muhammad sebagai Rasul, maka mereka adalah umat Islam dan berhak mengklaim sebagai umat Islam. Sholat mereka sama seperti sholat kita demikian pula dg puasa, zakat, dan haji.

    Perkara Ahmadiyah Lahore percaya ada nabi setelah Muhammad (meskipun saya mengimani bahwa Muhammad nabi terakhir), menurut saya ya silahkan saja. Tidak ada penegasan dalam syahadat bahwa kita harus mengimani Muhammad sebagai nabi terakhir.

    Mengenai Hadits Riwayat Muslim yang kamu kutip,
    itu bisa jadi salah satu sumber untuk menegaskan
    keimanan bahwa Muhammad adalah nabi terakhir. Tapi bukan alasan untuk menyesatkan dan mengkafirkan orang Ahmadiyah.🙂

    Dan saya juga tidak sependapat dengan keyakinan Nabi Isa dan Imam Mahdi akan muncul lagi. Kalau begini ini berarti ada nabi lagi dong setelah Muhammad?🙂

    Islam itu begitu beragam Bud. Sampai urusan yang kamu anggap ‘pokok’ saja seringkali ada perbedaan, bahkan lebih jauh perbedaannya daripada ‘sekedar’ urusan nabi terakhir saja. Mereka jalur evolusinya masih tidak terlalu jauh dengan Islam yang kita kenal selama ini. Masih ada lagi yang lebih jauh dan lebih asing..

    Nggak percaya? Coba sekali-sekali baca syariatnya Islam Syiah. Ga usah jauh-jauh, coba lihat misalnya Rukun Islamnya saja..

    Atau jangan-jangan menurutmu Syiah itu juga bukan Islam?🙂

  7. Mirza gulam dalam bukunya :
    “Kelurga dari Mongol, tetapi berdasarkan firman Allah, tampaknya keluargaku berasal dari Persia, dan aku yakin ini. Sebab tidak ada yang mengetahui seluk-beluk keluargaku seperti berita yang datang dari Allah Ta’ala.” (Hasyiah Al-Arba’in, no.2 hal.17, karya Mirza Ghulam Ahmad). Dia juga pernah berkata, “Aku pernah membaca beberapa tulisan ayahku dan kakekku, kalau mereka berasal dari suku mongol, tetapi Allah mewahyukan kepadaku bahwa aku dari bangsa Persia.” (Dhamimah Haqiqatil Wahyi, hal.77, kary. Mirza Ghulam Ahmad)

    bisa jelaskan mengenai ini? menurut sepemahaman saya dari pengakuan mirza ghulam tersebut dia mengaku menerima wahyu. Siapa yang bisa menerima wahyu? para nabi dengan demikian dia mengaku nabi meskipun dia tidak bilang terang2an mengatakan saya nabi🙂

    kemudian, menurut pemahaman saya sebaiknya cokhy tidak sepotong-sepotong meyakini hadits yang saya kutipkan diatas. Selain beriman pada Allah dan Rasulnya, kitapun harus beriman pada kitabNya (Al-Qur’an), bukan? ok, kalau sepakat maka saya akan kutipkan firman Allah dalam surat ke 33 ayat 40 :
    Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

    Mengenai syiah, demikian pula. Tapi saya tidak akan bahas terlebih dahulu

  8. Lagipula kalau si Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai nabi memangnya kenapa sih Bud? Kamu bilang penentuan yang menjadi pokok dalam Islam adalah dari hadits Nabi Muhammad SAW mengenai rukun islam, rukun iman dan ihsan.

    Hal-hal yang kamu anggap pokok kan sudah sama semua. Rukun Imannya sama-sama enam, rukun Islamnya juga sama, Ikhsannya juga. Jadi yang mana lagi yang membuat Ahmadiyah tidak kamu anggap bukan Islam?🙂

    Rukun iman ada “Iman kepada Rasul-rasul Allah.” Bukan mengimani bahwa Muhammad Rasul dan Nabi terakhir kan?

    Rukun islam ada syahadat “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”. Bukan Muhammad adalah Rasul dan Nabi terakhir kan?

    Atau ada Rukun Ikhsan yang berkata Muhammad adalah Rasul dan Nabi terakhir?

  9. Lebih jauh lagi, rukun Islam, Iman, dan Ikhsan ini adalah dogma dalam Islam terutama Sunni Asy’ariah. Kaum Syiah punya dogma yang berbeda, begitu juga kaum Mutakallimun, misalnya pada kaum Mu’tazillah.

    Pada jamannya nabi Muhammad belum ada formalisasi syariah seperti ini. Rukun-rukunan ini adalah bid’ah (inovasi) masa Pasca-kenabian.

    Nah lo, katanya bid’ah dilarang? Hehe…

  10. Apakah Cokhy, sudah membaca paparan saya sebelumnya? sudah membaca ayat Al-Qur’an yang menyatakan kalau Nabi Muhammad adalah penutup risalah nubuwah ? baiklah saya kutip kembali firman Allah dalam surat ke 33 ayat 40 :
    33 ayat 40 :
    “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”

    apakah disini kita sudah sepakat bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, dan penutup Nabi2 dan berarti tidak ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad SAW wafat? jika sepakat maka secara otomatis Mirza Ghulam yang mengaku sebagai nabi, dan mengklaim dirinya menerima wahyu bisa kita katakan sebagai seorang pendusta bukan? dengan demikian ajaran yang dibawanya pun dusta bukan?

    Bagaimana Bisa Cokhy mengatakan rukun iman, islam, ikhsannya sama ketika ahmadiyah mengingkari Rasulullah Muhammad SAW sebagai nabi terakhir? dimana letak beriman pada kitab Allah Al-Qur’an Al-Karim ketika mereka tidak mau tunduk pada firman Allah bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir? dimana logikanya?

    dan astagfirullah, apa yang baru dalam rukun iman, islam ihsan itu sehingga cokhy bisa berkesimpulan rukun iman, islam dan ihsan itu sebagai bid’ah?

    nah skrg, saya mau tanya sama cokhy neh, apa itu islam menurut cokhy?

  11. Bud, saya tidak tahu dan tidak tertarik bagaimana Ahmadiyah Qadian menafsirkan ayat 33:40. Kalau kamu mau tahu, silakan browsing di website-nya mereka mengenai hal ini. Saya pikir mereka pasti memiliki penafsirannya tentang hal ini karena mereka juga mengimani kekitabsucian Al-Quran. Kalau saya sih menafsirkannya kurang lebih sama seperti yang kamu tuliskan di atas.

    Seperti yang saya bilang, saya sepakat kalau Muhammad adalah rasul terakhir. Saya mengimani Muhammad sebagai rasul terakhir. Meskipun begitu, saya tidak otomatis menyalahkan orang yang menganggap Mirza ini adalah rasul juga. Masa orang berbeda keimanan dibilang dusta?🙂

    Keimanan tidak sama dengan rukun iman. Iman berada pada wilayah spiritual seseorang dan unik satu sama lain. Iman ini adalah kepercayaan yang tidak bisa dibuktikan, sehingga hanya bisa diimani saja. Jadi iman saya tidak memerlukan pembuktian, ya saya imani saja.

    Misalnya saja, saya mengimani kerasulan Muhammad dan saya tidak mampu membuktikannya. Ya saya imani saja kerasulannya.

  12. Sedangkan mengenai rukun iman, islam, dan ihsan baru disepakati belakangan setelah pasca kenabian. Tepatnya pada masa Abassyiah. Hal-hal dalam ranah fikih yang diformalisasikan sebagai ajaran Islam pada masa tersebut.

    Misalnya, poin-poin dalam rukun iman yang enam diambil dari Al-Quran, yaitu 4:136 (rukun ke 1-5) dan 57:23 (rukun ke-6).

    Di luar rukun iman yang ditakrifkan ini, ada banyak sekali mengenai ‘rukun-rukun’ menjadi orang yang beriman. Sedangkan rukun iman, islam, dan ihsan baru disepakati belakangan setelah pasca kenabian. Ini dalam ranah fikih. Misalnya, poin-poin dalam rukun iman ini diambil dari Al-Quran dan diformalisasikan dalam ajaran islam, yaitu 4:136 dan 57:23.

    Di luar rukun iman yang ditakrifkan ini, ada banyak sekali mengenai tata cara beriman. Banyak ayat yang dimulai dari kata ‘Ya ayyuhal lazina amanu’ di Al Quran yang merupakan rukun menjadi orang yang beriman.

    Para ulama memudahkan kita dengan memformalisasikan enam rukun-rukun itu menjadi rukun iman yang sekarang kita kenal ini. Ini adalah sebuah inovasi (bid’ah) untuk memudahkan kita pada langkah awal untuk mengenal keimanan. Istilah kerennya teologi, alias ilmu tauhid..

    Keimanan sendiri, seperti yang saya katakan adalah kepercayaan yang tidak bisa dibuktikan, sehingga kita imani saya.🙂

  13. Sekarang pertanyaannya, apakah itu Islam?

    Kata ‘Islam’ tidak pernah berdiri sendiri di Al Quran. Yang ada adalah ‘Al-Islam’. Kata ‘Islam’ secara berdiri sendiri apalagi jadi ‘agama Islam’ berada di sejarah Indonesia. Umat yang mengikuti Muhammad ketika masa kerasulannya tidak menamakan dirinya umat Islam. Oleh karena itu, tidak ada ‘Ya ayyuhal muslimun’ di Al-Quran.

    Al-Islam ini yang menjadi Din Al-Islam. Apakah itu Al-Islam?

    Nantikan pada episode selanjutnya alias bersambung.. Udah mulai redup nih, besok dilanjutin secepat sempatnya. Hehe…

  14. Terimakasih Cok untuk paparannya. Saya tidak sepakat iman itu tidak membutuhkan bukti, karena menurut saya tanpa bukti keimanan seseorang menjadi diragukan. dan bukti itu yang membedakan seorang beriman dengan seorang munafik, apa bedanya seorang beriman dan munafik? kedua2nya menyatakan saya beriman pada Allah, tapi ditataran praktis (amalan) mereka tidak melakukan apa yg diperintahkan oleh Allah dan RasulNya…

    “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Al ‘Ankabuut Ayat 2)

    Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. (QS. 76:2)

    Rukun adalah bagian dari sesuatu, yang tanpa itu sesuatu tersebut menjadi tidak ada. Demikianlah rukun iman, rukun islam… menjadi tidak islam seseorang ketika tidak ada padanya rukun islam. Pun demikian rukun iman. apa itu islam? islam adalah seperti yang disebutkan dalam hadits diatas tentang malaikat jibril yang bertanya pada Rasulullah SAW…

  15. Hehe.. bukan pembuktian yang itu Bud maksudnya.

    Bahwa keimanan harus diamalkan, alias diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, saya juga sepakat. Malah saya heran kalau ada orang mengaku beriman, tetapi melakukan kekerasan terhadap orang lain dan lingkungan, tidak bertakwa (disiplin), tidak memerhatikan kebersihan, tidak menghormati tetangga, dan berbagai macam perilaku lainnya yang tidak mencerminkan ciri-ciri orang yang beriman. Menurut Budhi, apa ini yang dimaksud orang yang munafik?

    Maksud saya keimanan itu tidak bisa dibuktikan adalah bahwa alasan saya beriman adalah kepercayaan penuh tanpa bukti apapun. Saya tidak membutuhkan bukti bahwa Allah itu ada, bahwa malaikat itu ada, bahwa Rasul dan Nabi itu ada, bahwa kitab suci itu ada, bahwa hari akhir itu ada, dan bahwa takdir itu ada.

    Adanya Allah tidak perlu dan tidak bisa dibuktikan. Saya hanya bisa mengimani saja hal ini. Begitu juga sebaliknya, orang atheis pun tidak bisa membuktikan ke-tidakada-an Tuhan. Failure to detect does not mean not exist..

    Oleh karena itu, keimanan itu tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah karena tidak bisa dibuktikan alias diobservasi. Jadi keimanan itu berada di daerah pribadi masing-masing tiap orang.

  16. Yang ada adalah keimanan yg sehat atau tidak sehat secara sosial.

    Kalau karena keimanan saya membuat saya jadi bisa menjadikan tindakan saya produktif dan memberikan manfaat yang luas buat semua, menjadikan saya menghormati sesama, ini yang menurut saya sebagai bentuk keimanan yang sehat.

    Kalau karena keimanan saya lantas saya memusuhi orang-orang yg tidak sama keimanan dengan saya, menurut saya ini bentuk keimanan yg tidak sehat.

  17. Membahas kembali soal Islam secara panjang lebar kurang lebih begini:

    Setahu saya di dalam Al-Quran kata “Islam” tidak berdiri sendiri. Yang ada adalah “Al-Islam”.

    Kata Islam justru muncul pada sejarah Al-Islam itu sendiri. Apalagi frase “Agama Islam”, ini hanya ada di Indonesia saja. “Agama” sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tidak kacau.

    Kata Al-Islam dimaksudkan kepada praktek semua nabi. Makanya, kita bilang Isa, Musa, terus sampai Adam adalah Islam. Kira-kira ada enam kali kata Al-Islam dalam Al Quran, yaitu pada 5:3, 3:85, 6:125, 39:22, 61:7 dan 3:19.

    Kata Al-Islam mengarah kepada millah (way of life) Ibrahim. Millah ini juga disebut di Al-Quran sebagai “Diin”, seperti pada frase “Diin Al-Islam”.

    Kata “Diin” berasal dari “Daana” yang berarti mematuhi atau membalas. Ada yang mengartikan “Diin” sebagai pembalasan, seperti pada kata “Yaum al-diin” dan ada juga yang menafsirkan “kepatuhan”.

    Jadi, kata “Diin” dalam kaitannya dengan “Al-Islam” bermakna ketundukan atau kepatuhan, atau jalan (landasan). Saya tidak mengartikan kata “Diin” sebagai agama.

    Sedangkan kata “Al” sering dikatakan bermakna sebagai definite article, “The” atau kata sandang yang satu-satunya. Selain itu, kata “Al” juga bermakna “whole/all atau keseluruhan seperti pada “al-aalamiin” atau “al-hamdi” dalam surat Al-Fatihah. Jadi, Al-Islam bisa menggunakan keduanya.

    Jika dipakai sebagai “definite article” maka itu harus bagi semua kata Al-Islam pada keenam ayat tersebut. Bila dimaknai “semua” juga harus diterapkan pada semuanya. Jadi, kita tidak memilih-milih, yang ini definit tapi yang itu “whole atau all”.

    Jika digunakan “the”, maka Al-Islam dalam Al-Quran bermakna “islam” sebagai wujud “penyerahan diri” yang dilakukan oleh para nabi. Jika dimaknai “whole”, maka juga mengacu semua bentuk penyerahan diri yang diteladankan oleh para nabi.

    Dengan demikian dalam “Inna diina inda Allahi al-Islam”, saya sependapat dengan penafsiran : “Sesungguhnya kepatuhan yang diterima Allah itu adalah Al-Islam (penyerahan diri sebagaimana yang diteladankan oleh para nabi Allah)”. Dan bukan sebagai “agama di hadapan Allah adalah agama islam.”

    Dan “…wala tamutuna illa wa antum muslimun”, saya setuju dengan penafsiran sebagai “…dan janganlah kalian semua mati kecuali mati dalam keadaan berserah diri.”

  18. Tambahan informasi sedikit tentang keragaman pendapat ulama :

    http://talithazone.blogspot.com/2009/08/mengapa-ulama-berbeda-pendapat.html

    Semoga berguna🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: