Posted by: calakan | May 7, 2010

jebakan setan

Alhamdulillah, setiap shubuh akhir-akhir ini saya sempatkan untuk shalat berjamaah di mesjid.  Awalnya, saya begitu tergoda dengan tawaran dari Allah lewat RasulNya Muhammad SAW yang bersabda kira-kira begini  “dua rakaat (shalat sunnah) sebelum shubuh lebih baik dari dunia dan seisinya” akibat menuruti godaan tersebut Alhamdulillah akhirnya ketagihan deh. Mudah2an ini selalu jadi candu buat saya, sensasi shalat shubuh berjamaah di mesjid tiada duannya.

Letak masjid dengan tempat tinggal saya tidak terlalu jauh, dan saya sangat senang setiap kali melangkahkan kaki menuju mesjid itu. Teringat kembali dengan sabda Rasulullah Muhammad SAW,  “pada setiap langkah menuju mesjid, diangkat satu derajatnya dan dihapus satu kesalahannya” benar-benar cuci gudang amalan dan diskon dosa. Ada yang istimewa pada saat perjalanan menuju mesjid tersebut, secara tidak sengaja saya melihat meteor atau bintang jatuh. Tidak seperti melihat meteor sebelum-sebelumnya, kali ini meteor terlihat sangat terang meskipun hanya sekejap saja melihatnya.

Untuk sementara waktu saya tertegun (meskipun masih sambil berjalan), terbersit godaan untuk mengucapkan sepatah dua patah do’a seperti yang biasa dilakukan orang-orang di felm-felm. Alhamdulillah, hal tersebut tidak saya lakukan. Ada kata hati yang segera mengingatkan, bahwa itu bukanlah contoh dari Rasulullah SAW dan tidak pernah ada ajaran dalam islam hal sedemikian.  Alih-alih membaca do’a permintaan pada bintang jatuh, saya menggantinya dengan do’a pengakuan betapa Allah menciptakan segala sesuatu di alam ini tidak sia-sia. Rabbana maa khalaqta hadza bathilaa subhanaKa faqina adzabannar…

Rupa-rupanya kejadian itu menggelitik saya, dan menjadi headline dalam pikiran saya. Kejadian akan mengucapkan do’a permintaan ketika bintang jatuh tersebut, saya sungguh sangat beruntung Allah menjaga saya untuk tidak melakukan hal tersebut. Jika tidak, bukan hal yang mustahil jika saya jatuh ke dalam ke-sirikan. Satu dosa besar yang Allah takkan mengampuninya, akan sia-sia lah segala amal perbuatan saya jika saya sampai terjerembab dalam ke sirikan. Dan bagaimana kita tidak terjerembab dalam kesirikan jika kita berdo’a pada selain Allah? naudzubillahimindzalik… saya sangat-sangat beruntung, Allah menjaga saya dari hal demikian.

***

Selesai pulang shalat shubuh, seperti biasa saya pulang bersama jemaah yang lain. Dan kebetulan, saya kembali pulang bersama dengan seorang sepuh (yang sudah saya ceritakan sebelumnya pada postingan yang lain). Beliau kemudian bercerita mengenai hijab yang menghalangi antara manusia dengan Tuhannya.  Manusia yang tidak mengakui adanya Tuhan adalah manusia yang tidak bisa menggapai/mengenail Tuhan karena dia terhalang oleh hijab. Hijab ini bisa terbentuk karena dosa-dosa manusia tersebut, semakin banyak dosanya semakin tebal hijab antara dia dan Tuhannya. Pun demikian, manusia yang berusaha untuk selalu menjaga dirinya dari dosa insya Allah memiliki hijab yang lebih tipis dengan Tuhannya dibandingkan dengan manusia yang sering bermaksiat. Itu dari sisi manusia

Dari sisi Allah, Beliau juga menceritakan ada hijab lain yakni hijab yang memang Allah kehendaki untuk itu. Sampai saat ini, kata Beliau baru Nabi Muhammad SAW pada saat Isra dan Mi’raj yang bertemu dengan Allah (saya meragukan ini, bukan meragukan peristiwanya tapi belum sampai pada pengetahuan saya bahwa Nabi Muhammad SAW bertatap langsung dengan Allah, setahu saya Nabi Muhammad SAW berbicara dengan Allah pun masih ada hijab, wallahua’lam, mungkin saya yang kurang pengetahuan saja. Yang saya tahu, gunung pada zaman Nabi Musa AS saja yang pernah melihat Allah, yang kemudian hancur lebur…).  Back to topic, jadi meskipun kita berusaha membersihkan diri kita dari dosa-dosa, belum tentu hijab kita cukup tipis untuk dapat mencapaiNya.

Maksudnya, ketika kita membaca Al-Qur’an baik dalam shalat ataupun bukan, pada saat sampai dengan ayat-ayat tentang azab atau pahala, ada yang bisa menangis atau gembira. Ini indikasi betapa tipisnya hijab antara dia denganNya, dan ada pula yang biasa-biasa saja. Hijab jenis ini hanya Allah saja yang berkehendak membuka/menutupnya. Alangkah beruntungnya orang yang dibukakan hijabnya oleh Allah sehingga semakin dekat denganNya.

Percakapan saya dengan sepuh itu sungguh sangat berharga. Saya merasa pengetahuan yang sepuh itu sampaikan pada saya sebagai hadiah terindah dari Allah SWT, dengan mendapat pengetahuan baru itu mudah-mudahan saya dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari saya.  Wallahua’lam bishowab…


Responses

  1. ::: Yepz….. never make any wish for the fallen… ^-^v

    ::: hm, aku masih bisa rutin 2 rakaat itu, alhamdulillah,,,,

    ::: hijab… bener banget… itu bisa dibuka tutup begitu saja, dan pantesnya bertanya2 sama diri sendiri kita masuk kategori yang mana yah..

    ::: eh? teman hidup?? hm… *mikir… hm… *mikir again… hm.. ^-^v *still mikir…..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: