Posted by: calakan | June 3, 2010

self centered

Percaya atau tidak, setiap manusia adalah orang-orang yang egois.  Baik egois secara langsung ataupun tidak langsung. Menurut hasil terawangan saya, manusia itu terbagi menjadi dua tipe egois yakni yang egois secara langsung dan egois yang tidak langsung.

Manusia tipe pertama yakni yang egois secara langsung adalah tipe-tipe manusia egois yang sering kita temui sehari-hari. Biasanya tipe orang seperti ini adalah manusia-manusia oportunistik, berpikir jangka pendek dan pengennya mau menang sendiri. Sangat mudah menjadi orang seperti ini, cukup dengan mematikan rasa kemanusiaan maka jadilah manusia egois “secara langsung”.

Tipe yang kedua adalah manusia bertipe egois tidak secara langsung. Sudah menjadi sifat alaminya, manusia menginginkan keuntungan bagi dirinya (egois kan?). Meski demikian, manusia dengan model ini, tidak berpikir jangka pendek ala manusia egois langsung. Mereka biasanya memikirkan keuntungan jangka panjang,  tidak oportunitik, mengalah demi menjaga keuntungan jangka panjangnya. Berbeda dengan tipe manusia egois pertama diatas, kelakuan tipe model kedua ini jika dilihat secara sepintas cenderung  “merugikan” /”merepotkan” dirinya sendiri. Namun dia sangat meyakini akan keuntungan yang akan dipanennya kelak…

Orang-orang egois tipe pertama identik dengan keserakahan, kebakhilan (kikir),  culas, penjilat, tukang fitnah dll… sedangkan orang-orang egois tipe kedua identik dengan kesahajaan, kedermawanan, penolong… tipe manusia manakah dirimu?

nb : tulisan diatas terinspirasi dari tulisannya aktifis kemanusiaan yang pergi ke gaza dengan tulisannya yang bertema “Gaza hanya butuh Allah” dan tulisan teman saya yang berkisah betapa pemberaninya orang-orang yang meninggalkan shalat dan betapa penakutnya orang-orang yang taat pada Allah. Betapa tidak, orang yang meninggalkan shalat serta mengerjakan maksiat berarti telah berani menentang perintahNya dan melaksanakan larangannya? dan siapakah yang lebih berani (tolol) melawan Sang Penciptanya?

begitulah ide ini muncul, sesungguhnya pada saat kita menolong orang lain baik itu dalam bentuk sedekah atau zakat atau lainnya pada hakikatnya adalah itu untuk menolong kita sendiri. berbahagialah masih ada yang membutuhkan kita, dengan begitu kita bisa berbuat baik. betapa malangnya kita apabila tidak yang bisa kita tolong, bagaimana kita hendak  mengumpulkan pundi2 untuk menambah cadangan amal kita kelak? jadi sebenarnya, siapakah yang lebih membutuhkan orang yang memberikan pertolongan atau orang yang ditolong? dua-duanya tentunya, dengan demikian sungguh Maha Adil yang menurunkan aturan seperti ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: