Posted by: calakan | June 11, 2010

sepakbola: sebuah kegilaan masal yang lain

Sebelum lebih jauh saya mengungkapkan apa yang ada dibenak saya, tolong dicatat : saya tidak anti bola! jadi jangan cap saya sebagai seorang yang antisebit (anti sepak bola internasional… maksya  :p)

Tinggal beberapa jam lagi, sebuah pesta perhelatan akbar kompetisi tingkat dunia akan segera di mulai. Gegap gempitanya sudah jauh-jauh hari digaungkan, setidaknya sejak setengah tahun yang lalu. Daya tarik perhelatan ini sungguh luar biasa, setidaknya itu parameter yang sempat mencuat ketika pansus century khawatir penyelesaian century belum tuntas hingga saat piala dunia dimulai. Mereka khawatir masyarakat akan segera lupa mengenai kasus penting ini ketika ada perhelatan akbar, piala dunia sepakbola, mereka khawatir masyarakat sudah tidak peduli dan perspun akan lebih sibuk memberitakan tentang sepak bola daripada kasus bank centuri.

Sangat menarik untuk mencermati fenomena mengenai hal ini. Mencermati gravitasi sepakbola terhadap prilaku manusia yang ada di dunia ini. Sungguh suatu hal yang dahsyat, betapa tidak, manusia seperti tersihir oleh pesonanya. Orang-orang akan rela mengurangi waktu tidurnya dan bangun di tengah malam untuk menyaksikan sepakbola tim favorit kesayangannya, meskipun pada saat yang lain sangat sulit melakukan hal ini untuk urusan yang lain. Shalat malam misalnya.

Begitu hebatnya “sihir” sepakbola sehingga bisa membuat banyak manusia melakukan perubahan nilai dirinya, memasukan pengecualian-pengecualian nilai untuk sepakbola. Menjadikan sesuatu yang tidak masuk akal menjadi masuk akal selama itu untuk sepak bola…

Sebagai misal, beberapa tahun yang lalu pada saat pemda mendanai klub bola, entah sudah berapa miliar uang daerah yang notabene adalah uang rakyat di salurkan untuk mendanai klub bola, alih-alih digunakan untuk mensejahterakan rakyatnya, membangun infrastruktur buat rakyatnya,  membebaskan biaya pendidikan atau membangun lapangan pekerjaan atau memberikan perbaikan gizi untuk bayi-bayi yang mengalami gizi buruk.

Mencermati fenomena tersebut,  saya percaya sebagian besar pendukung bola jika disurvei apakah lebih rela menyalurkan dana apbd-nya untuk klub ataukah untuk membangun fasilitas/infrastuktur publik? saya yakin mereka akan menjawab hal yang pertama. Okay, saya akui saya tidak punya data mengenai hal untuk membuktikan kepercayaan saya selain dari pengamatan fenomena yang saya saksikan sehari-hari mengenai “ketidaknormalan” nilai yang dipunyai para gibol. Misalnya saja tindakan para suporter bola beberapa klub yang cenderung anarkis dan tidak sehat, menumpang kereta api tidak bayar, merusak fasilitas umum ketika kalah, menjarah pedagang kecil… dimana akal sehat mereka? so wajar donk kalau saya ambil kesimpulan seperti diatas untuk menggeneralisir kemungkinan jawaban yang diberikan para gibol…

Taroh lah sang klub juara, so what? apakah kita bangga klub itu juara sementara disekitar kita jalan rusak karena dana habis untuk mendanai klub, atau fasilitas rakyat bobrok, apakah kita rela generasi yang akan datang yang mengalami defisiensi gizi dan menimbulkan generasi yang hilang?

Di tingkat dunia lebih sinting lagi, sering kita mendengar transfer pemain antar klub dihargai dengan nilai jutaan euro / dollar, dan digaji dengan nilai yang luaaaar biasaaa sedangkan di belahan dunia yang lain rakyat kelaparan, pendidikan yang tertinggal,  kemiskinan, wabah penyakit dan lain sebagainya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: